" ليس الجمال بأثواب تزيننا ولكن الجمال بجمال العلم والأدب "

Silahkan cari:
Subscribe:

Ads 468x60px

Lima Point Pembeda Untuk Santri Tulen

Diposkan Oleh: Muhtadi Bantan - Diperbarui Pada: Jumat, 18 November 2022 Pukul 03.47.00


 

Lima Point Pembeda Untuk Santri Tulen


Ada Lima Point Santri Tulen Beda Dengan Yang Lainnya.


Ibnu Malik Al-Andalusi dalam kitab Alfiyah-nya mendiskripsikan, Ada lima syarat yang bisa mengantarkan seseorang (Santri Tulen) pada derajat yang tinggi. Lima point tersebut yang nantinya akan membedakan antara Santri Tulen yang taat dan tidak. Hal itu beliau ukir dalam bait syair kitab matan Alfiyah yang berbunyi:


بالجر والتنوين والنداء وأل -*- ومسند للاسم تمييز حصل


“Bil jarri wat tanwini wan nida wa al # wa musnadin lil ismi tamyizun hashal”


  1. Bil jarri. Seorang Santri Tulen mempunyai karakter huruf jar. Tunduk dan tawadduk terhadap semua perintah, baik dari Allah SWT. maupun pemerintah). Bersesuaian dengan firman Allah SWT. yang berbunyi, “athi’ullaha wa athi’ur rasul wa ulil amri minkum”.
  2. Tanwin. Berkemampuan yang tinggi (himmah 'aaliah) mencari ridha Allah SWT. Dengan adanya kemauan yang tinggi seorang Santri Tulen akan mencapai apa yang ia inginkan. Sabda Baginda Nabi Muhammad SAW. yang datangnya dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khattab r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda yang bunyinya, “innamal a’malu binniyati, wa innama likullimriin ma nawa… (al-Hadits)”.
  3. Nida’. Selalu eling, dzikir. Setelah adanya niat yang baik untuk mencapai tempat yang layak di sisi Allah SWT., seorang Santri Tulen selalu berdzikir mengingat-Nya. Dengan ini, niat awal tidak akan menjadi ‘ashi, terbelokkan ke arah lain.
  4. Al, yang berarti berfikir. Dengan berfikir manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari makhluk Allah lainnya. Maka dari itu, setidaknya seseorang yang ingin menggapai sesuatu seyogyanya menggunakan akal pikirannya sebaik mungkin, dengan tidak menggunakannya pada jalan yang salah, tidak berpikiran licik. Tidak seperti apa yang kebanyakan dilakukan para aktivis yang kadang menggunakan akal pikirannya untuk mengkorup uang bawahannya, instansi, dan sejenisnya.
  5. Musnad ilaih. Beramal nyata (ikhlas). Cara yang kelima ini merupakan puncak dari semuanya. Dengan ikhlas semuanya akan gampang, bahkan hal yang selama ini sulit untuk di dapatkan itu bisa terealisasiakn nyata dengan diberikan kekuatan berbuat sebab telah dianugrahi jalan rahasianya hanya dengan bisa melapangkan hati untuk senantiasa ikhlas dalam segala perbuatan.


Sejatinya dari lima konsep di atas tidak hanya untuk Santri Tulen semata, akan tetapi bisa juga untuk mereka yang ingin menjadi lebih baik dan lebih maju, termasuk para pejabat, pemimpin yang berada dalam krisis multi dimensi dengan kata lain, yang lima itu untuk siapa saja, bisa di aplikasikan secara gampang dijalankan di semua lini kehidupan.


Allohu a'lam


Bacaan Zikir - Amalan di Bulan Rajab

Diposkan Oleh: Muhtadi Bantan - Diperbarui Pada: Selasa, 01 Februari 2022 Pukul 21.31.00





6 Bacaan Zikir - Amalan di Bulan Rajab


Memasuki bulan Rajab, umat Muslim dianjurkan untuk mengagungkan bulan tersebut dengan memperbanyak ibadah serta amalan. Beberapa amalan yang bisa dilakukan mulai dari menunaikan salat malam, berdoa, berzikir, puasa sunah, dan ibadah lain.


Kutipan buku Keagungan Rajab dan Syaban karangan Abdul Manan bin Haji Muhammad Sobar (2006: 25), berikut ini bacaan zikir saat bulan Rajab yang dapat diamalkan.


1. Dibaca 100 kali dari tanggal 1-10 bulan Rajab


سُبْحَانَ اللهُِ حَيِّ الْقَيُّوْمِ


"Subhaanallaahil-hayyil-qoyyuum."


2. Dibaca 100 kali dari tanggal 11-20 bulan Rajab


سُبْحَانَ اللهِ اَحَدِ الصَّمَدْ


"Subhaanallaahil-ahadish-shomad."


3. Dibaca 100 kali dari tanggal 21-30 bulan Rajab


سُبْحَانَ اللهُِ الرَّؤُوْفِ


"Subhaanalloohir ro'uufi"


4. Bacaan setelah subuh (pagi sebanyak 70 kali)


رب اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ


"Robbighfirlii Warhamnii Watub ‘Alayya."


5. Bacaan setelah magrib (malam sebanyak 70 kali)


رب اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ


"Robbighfirlii Warhamnii Watub ‘Alayya."


6. Bacaan Sayyidul Istighfar sebanyak 3 kali di waktu pagi dan malam


اَللَّهُم َّ أَنْتَ رَبِّيْ لآ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْـتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّه لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنت


"Allahumma anta rabbii laa ilaaha illa anta khalaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika maas-tatha’tu a’uudzubika min syarri maa shana’tu abuu-u laka bini’matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii faaghfirlii fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta."


Demikian beberapa bacaan pada bulan Rajab untuk memperbanyak amalan-amalan yang dimiliki. Semoga bermanfaat!


Maulid Nabi SAW.

Diposkan Oleh: Muhtadi Bantan - Diperbarui Pada: Jumat, 05 November 2021 Pukul 18.59.00


Maulid Nabi




Maulid Nabi Menurut Ahli Hadis Al-Hafidz As-Sakhawi

Al-Hafidz As-Sakhawi dalam fatwanya tentang kebolehan Maulid Nabi.


Dalam teks beliau yang lengkap di Subul al-Huda wa ar-Rasyad jilid 1 hal. 362:

قَالَ الْحَافِظُ أَبُوْ الْخَيْرِ السَّخَاوِي - رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى - فِي فَتَاوِيْهِ: عَمَلُ الْمَوْلِدِ الشَّرِيْفِ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِي الْقُرُوْنِ الثَّلَاثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَاَ حَدَثَ بَعْدُ، ثُمَّ لَا زَالَ أَهْلُ اْلإِسْلَامِ فِي سَائِرِ اْلأَقْطَارِ وَالْمُدُنِ الْكِبَارِ يَحْتَفِلُوْنَ فِي شَهْرِ مَوْلِدِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَمَلِ الْوَلَائِمِ الْبَدِيْعَةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى اْلأُمُوْرِ الْبَهْجَةِ الرَّفِيْعَةِ وَيَتَصَدَّقُوْنَ فِي لَيَالِيْهِ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ وَيَزِيْدُوْنَ فِي الْمَبَرَّاتِ وَيَعْتَنُوْنَ بِقِرَاءَةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيْمِِ وَيَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ برَكَاتِهِ كُلَّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ. (سبل الهدى والرشاد في سيرة خير العباد - 1 / 362)

Al-Hafidz as-Sakhawi berkata dalam Fatwanya: Amaliyah Maulid tidak diriwayatkan dari seorang ulama Salaf dalam 3 kurun yang utama. Amaliyah ini dilakukan sesudahnya, kemudian umat Islam di seluruh penjuru dan kota besar selalu merayakannya di bulan kelahiran Nabi Saw, dengan perayaan yang indah dan agung, mereka bersedekah di malam harinya, menampakkan rasa suka cita, menambah belanjanya, dan membaca kelahiran Nabi Saw. Dan tampak kepada mereka berkahnya-Nabi dengan merata (Subul al-Huda wa ar-Rasyad 1/362)

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.


Bacaan Bilal Dalam Shalat Tarawih

Diposkan Oleh: Muhtadi Bantan - Diperbarui Pada: Minggu, 02 Mei 2021 Pukul 11.08.00


 


Bacaan Bilal Dalam Shalat Tarawih


Bacaan Bilal Dalam Shalat Tarawih

Isi Kalam

  1. Niat Shalat Sunah Tarawih
  2. Niat Shalat Sunah Witir Dua Rakaat
  3. Niat Shalat Sunah Witir Satu Rakaat
  4. Doa Ya Mujir
  5. Doa Kamilin

Sendirian atau berjamaah, Tarawih 20 rakaat dilaksanakan dengan shalat 2 rakaat sekali salam sebanyak 10 kali. Lalu, berlanjut ke shalat witir 3 rakaat 2 kali salam. Qiyamullail pada malam-malam Ramadan jumlahnya 23 rakaat.

Tata cara Tarawih dan Witir serta bacaan-bacaan tertentu seperti yang ditulis dibawah ini hanya ada dalam Tarawih berjamaah. Sehingga, saya sendiri belum menemukan tata cara seperti ini dilakukan pada shalat Tarawih sekaligus Witiran sendirian atau munfarid. Di lokasi sekitar wilayah yang saya tempati, sudah biasa digalakkan seremoni ini mengiringi pelaksanaan shalat tarawih 20 rakaat. Bacaan-bacaan pun diucapkan di tiap jeda 2 rakaat yang dipandu sang bilal. Dan membaca doa kamilin setelah usai pengerjaan shalat tarawih.

Sebelumnya. Berikut bacaan niat shalat sunah Tarawih:

Bacaan niat salat sunah Tarawih

  1. Niat Shalat Tarawih 2 Rakaat Sendirian (munfarid)

    اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

    Bacaan latinnya: "Ushalli sunnatat tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adāan lillāhi ta‘ālā."
    Artinya: “Aku berniat salat sunah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai karena Allah Swt.”

  2. Bacaan Niat Shalat Tarawih 2 Rakaat Berjamaah sebagai Makmum

    اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

    Bacaan latinnya: "Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an ma’mūman lillāhi ta‘ālā."
    Artinya: “Aku berniat salat sunah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah Swt.”

  3. Bacaan Niat Shalat Tarawih 2 Rakaat Berjamaah sebagai Imam

    اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

    Bacaan latinnya: "Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā."
    Artinya: “Aku berniat salat sunah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah Swt.”

Bacaan Bilal Tarawih

Shalat Tarawih 20 rakaat yang dilakukan secara berjamaah, ada tata cara tersendiri, umumnya ada pembacaan doa singkat dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW di antara jeda 2 rakaat. Mengutip penjelasan di laman NU Online, meski tidak dilakukan di zaman Nabi Muhammad, praktik membaca doa dan salawat dalam salat Tarawih 20 rakaat dianggap sebagai tradisi baik. Alasannya, bacaan itu tidak bertentangan dengan syariat, sekaligus berisi doa dan penghormatan kepada Rasulullah SAW beserta para sahabatnya, terutama Khulafaur Rasyidin. Doa dan salawat pada jeda setiap mengerjakan 2 rakaat salat Tarawih itu dikenal dengan sebutan taradhdhi atau lantunan radhiallahu 'anhu (semoga Allah SWT meridainya). Doa meminta keridhaan Allah SWT itu ditujukan pada empat khalifah yang memimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Bacaan doa dan salawat itu biasa diucapkan secara bersama-sama oleh jamaah dengan lantang, serta dipandu seorang bilal. Maka itu, ia biasa juga disebut dengan bacaan bilal tarawih. Biasanya, doa tersebut diucapkan dahulu oleh seorang bilal, dan kemudian disambut dengan bacaan salawat secara lantang oleh jamaah salat Tarawih.

Bacaan bilal sebelum memulai salat Tarawih 20 rakaat

Setelah shalat sunah ba'diah Isya', Bilal dengan lantang mengucapkan bacaan ini sebagai pertanda shalat tarawih dimulai. Seumpama iqomah shalat, pertanda akan segera dimulainya shalat fardhu berjamaah.

صَلُّوْا سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعًا رَحِمَكُمُ اللهُ

Bacaan latinnya: "Shallû sunnatat tarãwîhi rak'ataini jãmi'an rahimakumullãh."
Artinya: "Mari mendirikan salat sunah Tarawih dua rakaat berjamaah. Semoga Allah merahmatimu."

Lantas jamaah salat Tarawih menjawab:

لَاإلهَ إِلّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ

Bacaan latinnya: "Lã ilãha illallãh Muhammadurrasûlullãh"
Artinya: "Tiada tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah."

Selanjutnya. Berikut bacaan bilal shalat tarawih lengkap, sesuai dengan urutan pembacaannya di setiap jeda 2 rakaat.

  1. Bacaan bilal setelah 2 rakaat salat Tarawih Pertama

    صَلَاةَ الْقِيَامِ أَثَابَكُمُ اللهِ

    Bacaan latinnya: "Shalãtal qiyãmi atsãbakumullãh"
    Artinya: "Lakukanlah qiyamullail. Semoga Allah SWT memberikan pahala."

    Lantas jamaah salat Tarawih menjawab:

    لَاإلهَ إِلّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Lã ilãha illallãh Muhammadurrasûlullãh"
    Artinya: "Tiada tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah."
  2. Bacaan bilal setelah 2 rakaat salat Tarawih Kedua

    البَدْرُ سَيِّدُنَا مُحَمَّد

    Bacaan latinnya: "Al-badru, sayyidunã Muhammad..."
    Artinya: "Bak purnama, sayyiduna Muhammad..."

    Lantas, jamaah menimpali dengan bacaan berikut:

    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ
    Bacaan latinnya: "Allãhumma shalli wasallim 'alaih"
    Artinya: "Semoga salawat dan keselamatan dilimpahkan kepada beliau (Muhammad)."

    Kemudian bilal / imam berdoa:

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْاَوَّلِيْن وَالْآخِرِيْن وَبَارِكْ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ الله تَعَاْلى عَنْ سَاْدَاْتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِ الله أَجْمَعِيْن آمِينْ اَللَّهُمَّ إِنّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنّارِ. يَا مُجِيْرُ يَا مُجِيْرُ يَا مُجِيْرُ بِرَحْمَتِكَ يآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى جَمِيْعِ الْأَنْبِيآء وَالْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين

    Bacaan latinnya: "Allãhumma shalli 'alã sayyidinã muhammadin fil awwalîn wal ãkhirîn wa bãrik wa sallim wa radhiyallãhu ta'ãlã 'an sãdãtinã ash-hãbi rasûlillãhi ajma'în. Ãmîn. Allãhumma innã nas'aluka ridhãka wal jannata wa na'ûdzu bika min sakhathika wannãri. Yã Mujîru Yã Mujîru Yã Mujîr.. birahmatika Yã Arhamarrãhimîn.. Shalli wasallim 'alã jamî'il ambiyã´i wal mursalîna sayyidinã muhammadin wa 'alã ãlihî wa shahbihî ajma'în.."
    Artinya: "Semoga rahmat dan salam keselamatan serta berkah dilimpahkan kepada Baginda kita, Nabi Muhammad SAW, dalam yang awal dan akhir. Semoga Allah ridha pada semua sahabat Rasul SAW. amin.. Ya Allah, kami mohon ridha-Mu dan surga, jauhkan kami dari murka dan neraka. Duhai Dzat Maha Penyelamat, Duhai Dzat Maha Penyelamat, Duhai Dzat Maha Penyelamat. Dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Kasih. Semoga rahmat salam terlimpah pada semua nabi dan rasul, baginda kita, Nabi Muhammad SAW. keluarganya, sahabatnya semua.."

    Bilal kemudian menimpali dengan kalimat:

    صَلُّوْا سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعًا رَحِمَكُمُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Shallu sunnatat tarawiihi rak'ataini jaami'an rahimakumullah."
    Artinya: "Mari mendirikan salat sunah Tarawih dua rakaat berjamaah. Semoga Allah merahmatimu."

    Lantas jamaah salat Tarawih menjawab:

    لَاإلهَ إِلّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Lã ilãha illallãh Muhammadurrasûlullãh"
    Artinya: "Tiada tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah."
  3. Bacaan bilal setelah 2 rakaat salat Tarawih Ketiga:

    صَلَاةَ الْقِيَامِ أَثَابَكُمُ اللهِ

    Bacaan latinnya: "Shalãtal qiyãmi atsãbakumullãh"
    Artinya: "Lakukanlah qiyamullail. Semoga Allah SWT memberikan pahala."

    Lantas jamaah salat Tarawih menjawab:

    لَاإلهَ إِلّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Lã ilãha illallãh Muhammadurrasûlullãh"
    Artinya: "Tiada tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah."
  4. Bacaan bilal setelah 2 rakaat salat Tarawih Keempat:

    الْخَلِيْفَةُ اْلاُوْلَى سَيِّدُنَا اَبُوْ بَكَرْ الصِّدِّيْقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

    Bacaan latinnya: "Al-khalîfatul ûla, Sayyidunã abû bakrin asshiddîq..."
    Artinya: "Khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq...

    Lantas, jamaah menimpali bilal dengan bacaan berikut:

    رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

    Bacaan latinnya: "Radhiyallãhu 'anhu..."
    Artinya: "Semoga Allah SWT meridhainya."

    Bilal / imam berdoa:

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْاَوَّلِيْن وَالْآخِرِيْن وَبَارِكْ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ الله تَعَاْلى عَنْ سَاْدَاْتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِ الله أَجْمَعِيْن آمِينْ اَللَّهُمَّ إِنّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنّارِ. يَا مُجِيْرُ يَا مُجِيْرُ يَا مُجِيْرُ بِرَحْمَتِكَ يآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى جَمِيْعِ الْأَنْبِيآء وَالْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين

    Bacaan latinnya: "Allãhumma shalli 'alã sayyidinã muhammadin fil awwalîn wal ãkhirîn wa bãrik wa sallim wa radhiyallãhu ta'ãlã 'an sãdãtinã ash-hãbi rasûlillãhi ajma'în. Ãmîn. Allãhumma innã nas'aluka ridhãka wal jannata wa na'ûdzu bika min sakhathika wannãri. Yã Mujîru Yã Mujîru Yã Mujîr.. birahmatika Yã Arhamarrãhimîn.. Shalli wasallim 'alã jamî'il ambiyã´i wal mursalîna sayyidinã muhammadin wa 'alã ãlihî wa shahbihî ajma'în.in fil awwalîn wal ãkhirîn wa bãrik wa sallim wa radhiyallãhu ta'ãlã 'an sãdãtinã ash-hãbi rasûlillãhi ajma'în. Ãmîn. Allãhumma innã nas'aluka ridhãka wal jannata wa na'ûdzu bika min sakhathika wannãri. Yã Mujîru Yã Mujîru Yã Mujîr.. birahmatika Yã Arhamarrãhimîn.. Shalli wasallim 'alã jamî'il ambiyã´i wal mursalîna sayyidinã muhammadin wa 'alã ãlihî wa shahbihî ajma'în."
    Artinya: "Semoga rahmat dan salam keselamatan serta berkah dilimpahkan kepada Baginda kita, Nabi Muhammad SAW, dalam yang awal dan akhir. Semoga Allah ridha pada semua sahabat Rasul SAW. amin.. Ya Allah, kami mohon ridha-Mu dan surga, jauhkan kami dari murka dan neraka. Duhai Dzat Maha Penyelamat, Duhai Dzat Maha Penyelamat, Duhai Dzat Maha Penyelamat. Dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Kasih. Semoga rahmat salam terlimpah pada semua nabi dan rasul, baginda kita, Nabi Muhammad SAW. keluarganya, sahabatnya semua.."

    Bilal kemudian menimpali lagi:

    صَلُّوْا سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعًا رَحِمَكُمُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Shallû sunnatat tarãwîhi rak'ataini jãmi'an rahimakumullãh."
    Artinya: "Mari mendirikan salat sunah Tarawih dua rakaat berjamaah. Semoga Allah merahmatimu."

    Lantas jamaah salat Tarawih menjawab:

    لَاإلهَ إِلّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Lã ilãha illallãh Muhammadurrasûlullãh"
    Artinya: "Tiada tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah."
  5. Bacaan bilal setelah 2 rakaat salat Tarawih Kelima:

    صَلَاةَ الْقِيَامِ أَثَابَكُمُ اللهِ

    Bacaan latinnya: "Shalãtal qiyãmi atsãbakumullãh"
    Artinya: "Lakukanlah qiyamullail. Semoga Allah SWT memberikan pahala."

    Lantas jamaah salat Tarawih menjawab:

    لَاإلهَ إِلّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Lã ilãha illallãh Muhammadurrasûlullãh"
    Artinya: "Tiada tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah."
  6. Bacaan bilal setelah 2 rakaat salat Tarawih Keenam:

    اَلْخَلِيْفَةُ الثَّانِيَةُ سَيِّدُنَا عُمَرُ ابْنُ الْخَطَّابْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

    Bacaan latinnya: "Al-khalîfatust tsãniyah, Sayyidunã Umar bin Khattab.."
    Artinya: "Khalifah kedua, Sayidina Umar bin Khattab.."

    Lantas, jamaah menimpali bilal dengan bacaan berikut:

    رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

    Bacaan latinnya: "Radhiyallãhu 'anhu..."
    Artinya: "Semoga Allah Swt. meridhainya."

    Bilal / imam berdoa:

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْاَوَّلِيْن وَالْآخِرِيْن وَبَارِكْ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ الله تَعَاْلى عَنْ سَاْدَاْتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِ الله أَجْمَعِيْن آمِينْ اَللَّهُمَّ إِنّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنّارِ. يَا مُجِيْرُ يَا مُجِيْرُ يَا مُجِيْرُ بِرَحْمَتِكَ يآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى جَمِيْعِ الْأَنْبِيآء وَالْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين

    Bacaan latinnya: "Allãhumma shalli 'alã sayyidinã muhammadin fil awwalîn wal ãkhirîn wa bãrik wa sallim wa radhiyallãhu ta'ãlã 'an sãdãtinã ash-hãbi rasûlillãhi ajma'în. Ãmîn. Allãhumma innã nas'aluka ridhãka wal jannata wa na'ûdzu bika min sakhathika wannãri. Yã Mujîru Yã Mujîru Yã Mujîr.. birahmatika Yã Arhamarrãhimîn.. Shalli wasallim 'alã jamî'il ambiyã´i wal mursalîna sayyidinã muhammadin wa 'alã ãlihî wa shahbihî ajma'în.."
    Artinya: "Semoga rahmat dan salam keselamatan serta berkah dilimpahkan kepada Baginda kita, Nabi Muhammad SAW, dalam yang awal dan akhir. Semoga Allah ridha pada semua sahabat Rasul SAW. amin.. Ya Allah, kami mohon ridha-Mu dan surga, jauhkan kami dari murka dan neraka. Duhai Dzat Maha Penyelamat, Duhai Dzat Maha Penyelamat, Duhai Dzat Maha Penyelamat. Dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Kasih. Semoga rahmat salam terlimpah pada semua nabi dan rasul, baginda kita, Nabi Muhammad SAW. keluarganya, sahabatnya semua.."

    Bilal kemudian menimpali lagi:

    صَلُّوْا سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعًا رَحِمَكُمُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Shallû sunnatat tarãwîhi rak'ataini jãmi'an rahimakumullãh."
    Artinya: "Mari mendirikan salat sunah Tarawih dua rakaat berjamaah. Semoga Allah merahmatimu."

    Lantas jamaah salat Tarawih menjawab:

    لَاإلهَ إِلّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Lã ilãha illallãh Muhammadurrasûlullãh"
    Artinya: "Tiada tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah."
  7. Bacaan bilal setelah 2 rakaat salat Tarawih ketujuh:

    صَلَاةَ الْقِيَامِ أَثَابَكُمُ اللهِ

    Bacaan latinnya: "Shalãtal qiyãmi atsãbakumullãh"
    Artinya: "Lakukanlah qiyamullail. Semoga Allah SWT memberikan pahala."

    Lantas jamaah salat Tarawih menjawab:

    لَاإلهَ إِلّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Lã ilãha illallãh Muhammadurrasûlullãh"
    Artinya: "Tiada tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah."
  8. Bacaan bilal setelah 2 rakaat salat Tarawih Kedelapan

    اَلْخَلِيْفَةُ الثَّالِثَةُ سَيِّدُنَا عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

    Bacaan latinnya: "Al-khalîfatust tsãlitsah, Sayyiduna Utsman bin Affan.."
    Artinya: "Khalifah ketiga, Sayidina Utsman bin Affan.."

    Lantas, jamaah menimpali bilal dengan bacaan berikut:

    رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

    Bacaan latinnya: "Radhiyallãhu 'anhu...."
    Artinya: "Semoga Allah SWT meridhainya."

    Bilal / imam berdoa:

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْاَوَّلِيْن وَالْآخِرِيْن وَبَارِكْ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ الله تَعَاْلى عَنْ سَاْدَاْتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِ الله أَجْمَعِيْن آمِينْ اَللَّهُمَّ إِنّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنّارِ. يَا مُجِيْرُ يَا مُجِيْرُ يَا مُجِيْرُ بِرَحْمَتِكَ يآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى جَمِيْعِ الْأَنْبِيآء وَالْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين

    Bacaan latinnya: "Allãhumma shalli 'alã sayyidinã muhammadin fil awwalîn wal ãkhirîn wa bãrik wa sallim wa radhiyallãhu ta'ãlã 'an sãdãtinã ash-hãbi rasûlillãhi ajma'în. Ãmîn. Allãhumma innã nas'aluka ridhãka wal jannata wa na'ûdzu bika min sakhathika wannãri. Yã Mujîru Yã Mujîru Yã Mujîr.. birahmatika Yã Arhamarrãhimîn.. Shalli wasallim 'alã jamî'il ambiyã´i wal mursalîna sayyidinã muhammadin wa 'alã ãlihî wa shahbihî ajma'în.."
    Artinya: "Semoga rahmat dan salam keselamatan serta berkah dilimpahkan kepada Baginda kita, Nabi Muhammad SAW, dalam yang awal dan akhir. Semoga Allah ridha pada semua sahabat Rasul SAW. amin.. Ya Allah, kami mohon ridha-Mu dan surga, jauhkan kami dari murka dan neraka. Duhai Dzat Maha Penyelamat, Duhai Dzat Maha Penyelamat, Duhai Dzat Maha Penyelamat. Dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Kasih. Semoga rahmat salam terlimpah pada semua nabi dan rasul, baginda kita, Nabi Muhammad SAW. keluarganya, sahabatnya semua.."

    Bilal kemudian menimpali lagi:

    صَلُّوْا سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعًا رَحِمَكُمُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Shallû sunnatat tarãwîhi rak'ataini jãmi'an rahimakumullãh."
    Artinya: "Mari mendirikan salat sunah Tarawih dua rakaat berjamaah. Semoga Allah merahmatimu."

    Lantas jamaah salat Tarawih menjawab:

    لَاإلهَ إِلّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Lã ilãha illallãh Muhammadurrasûlullãh"
    Artinya: "Tiada tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah."
  9. Bacaan bilal setelah 2 rakaat salat Tarawih Kesembilan:

    صَلَاةَ الْقِيَامِ أَثَابَكُمُ اللهِ

    Bacaan latinnya: "Shalãtal qiyãmi atsãbakumullãh"
    Artinya: "Lakukanlah qiyamullail. Semoga Allah SWT memberikan pahala."

    Lantas jamaah salat Tarawih menjawab:

    لَاإلهَ إِلّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Lã ilãha illallãh Muhammadurrasûlullãh"
    Artinya: "Tiada tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah."
  10. Bacaan bilal setelah 2 rakaat salat Tarawih Kesepuluh:

    اَلْخَلِيْفَةُ الرَّابِعَةُ سَيِّدُنَا عَلِيْ بِنْ اَبِيْ طَالِبْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

    Bacaan latinnya: "Al-khalîfatur rãbi'atu, Sayyidunã 'Aliy bin Abi Thalib.."
    Artinya: "Khalifah keempat, Sayidina 'Ali bin Abi Thalib.."

    Lantas, jamaah menimpali bilal dengan bacaan berikut:

    رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

    Bacaan latinnya: "Radhiyallãhu 'anhu...."
    Artinya: "Semoga Allah SWT meridhainya."

    Bilal / Imam kemudian menimpali dengan doa kamilin. Dan setelahnya, Bilal kemudian menimpali dengan kalimat ini:

    صَلُّوْا سُنَّةَ الوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ جَامِعًا رَحِمَكُمُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Shallûû sunnatal witri rak'ataini jãmi'an rahimakumullãh."
    Artinya: "Mari mendirikan salat sunah Witir dua rakaat berjamaah. Semoga Allah merahmatimu."

    Lantas jamaah salat Tarawih menjawab:

    لَاإلهَ إِلّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ

    Bacaan latinnya: "Lã ilãha illallãh Muhammadurrasûlullãh"
    Artinya: "Tiada tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah."

shalat witir 2 rakaat pun dilakukan.

Niat Shalat Witir Dua Rakaat
  • Bacaan Niat Shalat sunah Witir 2 Rakaat Berjamaah sebagai Imam

    اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

    Bacaan latinnya: "Ushallî sunnatal Witri rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā."
    Artinya: “Aku berniat salat sunah Witir dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah Swt.”
  • Bacaan Niat Shalat sunah Witir 2 Rakaat Berjamaah sebagai Makmum

    اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

    Bacaan latinnya: "Ushallî sunnatal Witri rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an ma’mūman lillāhi ta‘ālā."
    Artinya: “Aku berniat salat sunah Witir dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai Makmum karena Allah Swt.”

Setelah salam Witir dua rakaat. Lantas bilal mengucapkan:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
وَحَبِيْبِنَا
وَشَفِيْعِنَا
وَمَوْلَانَا
مُحَمَّد...

Bacaan latinnya: "Allãhumma shalli 'alã sayyidinã wahabîbinã wasyafî'inã wamaulãnã muhammad."
Artinya: "Semoga salawat dilimpahkan kepada Muhammad Saw."

Lantas, jamaah menjawab:

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ

Bacaan latinnya: "Allãhumma shalli wasallim 'alaîh."
Artinya: "Semoga salawat dan keselamatan dilimpahkan kepada beliau (Muhammad)."

صَلُّوْا رَكْعَةً مِنَ الْوِتْرِ جَامِعًا رَحِمَكُمُ الله

Bacaan latinnya: "Shallûû rak'atan minal witri jãmi'an rahimakumullãh."
Artinya: "Mari mendirikan salat Witir satu rakaat berjamaah. Semoga Allah merahmatimu."

(catatan: jika setelah puasa 15 hari maka malam ke 16 kalimat diatas (shollû..) diganti dengan:

إِشْفَعُوْا بِالْوِتْرِ وَالْقُنُوْتِ والْمَجِيْدِ شَهْرَ الصِّيَاْم رَحِمَكُمُ الله

Bacaan latinnya: "Isyfa'ûû bil witri walqunûti walmajîdi syahrassiyãmi rahimakumullãh."
Artinya: "Mari memohon syafa'at dengan Witir dan qunut dan untuk sungguh-sungguh ibadah di bulan puasa. Semoga Allah merahmatimu."

Lantas, jamaah menjawab:

لَاإلهَ إِلّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ

Bacaan latinnya: "Lã ilãha illallãh Muhammadurrasûlullãh"
Artinya: "Tiada tuhan selain Allah Muhammad Rasulullah."


اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْاَوَّلِيْن وَالْآخِرِيْن وَبَارِكْ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ الله تَعَاْلى عَنْ سَاْدَاْتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِ الله أَجْمَعِيْن آمِينْ اَللَّهُمَّ إِنّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنّارِ. يَا مُجِيْرُ يَا مُجِيْرُ يَا مُجِيْرُ بِرَحْمَتِكَ يآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى جَمِيْعِ الْأَنْبِيآء وَالْمُرْسَلِينَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين


Setelah tarawih dikerjakan genap 20 rakaat, dianjurkan membaca doa Kamilin. Bacaan Doa Kamilin setelah Tarawih Sebagaimana dikutip dari kitab Al-Adzkar (2012) yang ditulis Abu Zakaria Muhyuddin An-Nawawi, doa Kamilin lazim dibaca usai salat Tarawih. Lafal arab-latin doa kamilin adalah sebagai berikut:

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَبِحُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Bacaan latinnya: "Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa 'alâ sariirl karâmati qâ'idîn. Wa bi hûrun 'in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în.

 Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn."

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara salat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qada-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra, yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

wallahua'lam


Doa Akhir dan Awal Tahun

Diposkan Oleh: Muhtadi Bantan - Diperbarui Pada: Rabu, 19 Agustus 2020 Pukul 02.45.00


 


Doa Akhir dan Awal Tahun.

Sebagaimana telah maklum bahwa tahun hijriyah punya kalender sendiri mengikuti perputaran bulan di tiap tahunnya. Seperti penanggalan Miladiyah yang menggunakan peredaran matahari. Bulan Muharam adalah awal perhitungan kalender hijriyah. Tanggal satu tahun 1442 ini jatuh pada hari Kamis, bertepatan dengan 20 Agustus 2020. Dan, ada doa tersendiri dihari akhir dan awal tahunnya seperti;

1. Doa akhir tahun yang dibaca 3x setelah sholat 'ashar hingga menjelang terbenam matahari.


Berikut doanya:


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْه وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدِ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ


Bismillaahir-rahmaanir-rahiim, Wa shallallaahu ‘ala sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallam.

Allaahumma maa ‘amiltu min 'amalin fi haadzihis-sanati maa nahaitani ‘anhu walam atub minhu wa halumta fiihaa ‘alayya bifadhlika ba’da qudratika ‘alaa 'uquubatii wa da’autanii ilattaubati minhu ba’da jaraa-atii 'alaa ma’shiyatika fa inni astaghfiruka fag firlii

wa maa ‘amiltu fiihaa mimma tardhaahu wa wa’adtani ‘alaihits-tsawaaba fa as’alukallahumma an tataqabbala minni wa laa taqtha’ rajaa-ii minka yaa karim,

wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihii wa sahbihii wa sallam


Arti bebasnya;


"Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berrarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah pupuskan harapanku. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah."


2. Doa awal tahun dibaca pada detik-detik memasuki hari pertama awal tahun. Biasanya dibaca sebanyak 3x setelah Maghrib.


Berikut doanya:


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اَنْتَ اْلاَ بَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرَمِ جُوْدِكَ الْمُعَوَّلُ وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ اَقْبَلَ اَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ

اَوْلِيَائِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلاَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى اِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ


Bismillaahir-rahmaanir-rahiim.


Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam.


Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa ‘alaa fadhlikal-’azhiimi wakaramu-juudikal-mu’awwalu, wa haadza ‘aamun jadidun qad aqbala, as-alukal ‘ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa-ihi wal’auna ‘alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu-i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimiin,


wa sallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallam


Arti bebasnya; 


Ya Allah! Dzat Yang Kekal, Yang Awal, tanpa Permulaan, atas kemurahan-Mu yang agung dan kedermawanan-Mu yang selalu berlebih, ini adalah tahun baru telah tiba: kami mohon kepada-Mu pada tahun ini agar terhindar (terjaga) dari godaan syetan dan semua temannya, dan (kami mohon) pertolongan dari godaan nafsu yang selalu memerintahkan (mendorong) berbuat kejahatan, serta (kami mohon) agar kami disibukkan dengan segala yang mendekatkan diriku kepada-Mu dengan sedekat-dekatnya. Wahai Dzat Yang Maha Luhur lagi Mulia, wahai Dzat Yang Maha Belas Kasih!

Aamiin..



Tentang Bakalan Ada Kejadian Di Pertengahan Ramadhan

Diposkan Oleh: Muhtadi Bantan - Diperbarui Pada: Sabtu, 25 April 2020 Pukul 00.46.00




Benarkah Bakal Ada Kejadian Di Pertengahan Ramadhan?

Soal telah beredarnya sebuah hadis yang menyebutkan bakal terjadinya hal-hal yang menakutkan di pertengahan Ramadhan hingga umat Islam yang dalam keadaan susah menghadapi musibah Corona saat ini justru malah ditakut-takuti lagi dengan tanda-tanda kiamat. Maka dari itu, beberapa ulasan dalam tulisan ini tentang keadaan sebuah hadis itu dipandang dari sudut ilmu hadis dan realitanya. Awal hadis itu berbunyi;

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺑُﻮ ﻋُﻤَﺮَ، ﻋَﻦِ اﺑْﻦِ ﻟَﻬِﻴﻌَﺔَ، ﻗَﺎﻝَ: ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﻋَﺒْﺪُ اﻟْﻮَﻫَّﺎﺏِ ﺑْﻦُ ﺣُﺴَﻴْﻦٍ، ﻋَﻦْ ﻣُﺤَﻤَّﺪِ ﺑْﻦِ ﺛَﺎﺑِﺖٍ اﻟْﺒُﻨَﺎﻧِﻲِّ، ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ، ﻋَﻦِ اﻟْﺤَﺎﺭِﺙِ اﻟْﻬَﻤْﺪَاﻧِﻲِّ، ﻋَﻦِ اﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ، ﺭَﺿِﻲَ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ، ﻋَﻦِ اﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ:

Abu Umar bercerita kepada kami dari Ibnu lahi'ah, Abdul Wahhab bercerita kepada saya, dari Muhammad bin Tsabit dari ayahnya, dari Harits Al-Hamdani dari Ibnu Mas'ud dari Nabi shalallahu alaihi wasallam

«ﺇِﺫَا ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺻَﻴْﺤَﺔٌ ﻓِﻲ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻣَﻌْﻤَﻌَﺔٌ ﻓِﻲ ﺷَﻮَّاﻝٍ، ﻭَﺗَﻤْﻴِﻴﺰُ اﻟْﻘَﺒَﺎﺋِﻞِ ﻓِﻲ ﺫِﻱِ اﻟْﻘَﻌْﺪَﺓِ، ﻭَﺗُﺴْﻔَﻚُ اﻟﺪِّﻣَﺎءُ ﻓِﻲ ﺫِﻱِ اﻟْﺤِﺠَّﺔِ ﻭَاﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡِ، ﻭَﻣَﺎ اﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡُ» ، ﻳَﻘُﻮﻟُﻬَﺎ ﺛَﻼَﺛًﺎ، «ﻫَﻴْﻬَﺎﺕَ ﻫَﻴْﻬَﺎﺕَ، ﻳُﻘْﺘَﻞُ اﻟﻨَّﺎﺱُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻫَﺮْﺟًﺎ ﻫَﺮْﺟًﺎ» ﻗَﺎﻝَ:

"Jika terjadi TERIAKAN di bulan Ramadhan maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, perpecahan bangsa di bulan Dzulqa'dah, pembunuhan di bulan Dzulhijjah dan Muharram. Nabi mengulang 3x. "Jauh sekali. Jauh sekali. Manusia akan dibunuh di bulan itu secara berbondong-bondong"

ﻗُﻠْﻨَﺎ: ﻭَﻣَﺎ اﻟﺼَّﻴْﺤَﺔُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠَّﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ: " ﻫَﺪَّﺓٌ ﻓِﻲ اﻟﻨِّﺼْﻒِ ﻣِﻦْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺟُﻤُﻌَﺔٍ، ﻓَﺘَﻜُﻮﻥُ ﻫَﺪَّﺓٌ ﺗُﻮﻗِﻆُ اﻟﻨَّﺎﺋِﻢَ، ﻭَﺗُﻘْﻌِﺪُ اﻟْﻘَﺎﺋِﻢَ، ﻭَﺗُﺨْﺮِﺝُ اﻟْﻌَﻮَاﺗِﻖَ ﻣِﻦْ ﺧُﺪُﻭﺭِﻫِﻦَّ، ﻓِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔِ ﺟُﻤُﻌَﺔٍ، ﻓِﻲ ﺳَﻨَﺔٍ ﻛَﺜِﻴﺮَﺓِ اﻟﺰَّﻻَﺯِﻝِ

Kami bertanya: Apa teriakan itu wahai Rasulullah? Nabi menjawab: "Gemuruh di separuh Ramadhan di malam Jum'at. Gemuruh ini akan membangunkan orang tidur, mendudukkan orang berdiri, mengeluarkan wanita-wanita muda dari peraduannya. Di malam Jum'at. Di tahun yang banyak terjadi gempa"

ﻓَﺈِﺫَا ﺻَﻠَّﻴْﺘُﻢُ اﻟْﻔَﺠْﺮَ ﻣِﻦْ ﻳَﻮْﻡِ اﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻓَﺎﺩْﺧُﻠُﻮا ﺑُﻴُﻮﺗَﻜُﻢْ، ﻭَاﻏْﻠِﻘُﻮا ﺃَﺑْﻮَاﺑَﻜُﻢْ، ﻭَﺳُﺪُّﻭا ﻛُﻮَاﻛُﻢْ، ﻭَﺩِﺛِّﺮُﻭا ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ، ﻭَﺳُﺪُّﻭا ﺁﺫَاﻧَﻜُﻢْ، ﻓَﺈِﺫَا ﺣَﺴَﺴْﺘُﻢْ ﺑﺎﻟﺼﻴﺤﺔ ﻓَﺨِﺮُّﻭا ﻟِﻠَّﻪِ ﺳُﺠَّﺪًا، ﻭَﻗُﻮﻟُﻮا: ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ اﻟْﻘُﺪُّﻭﺱِ، ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ اﻟْﻘُﺪُّﻭﺱِ، ﺭَﺑُّﻨَﺎ اﻟْﻘُﺪُّﻭﺱُ، ﻓَﺈِﻥَّ ﻣَﻦْ ﻓَﻌَﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ﻧَﺠَﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﻟِﻚَ ﻫَﻠَﻚَ "

"Jika kalian shalat subuh di hari Jum'at maka masuklah ke rumah kalian, tutup pintu, rapatkan jendela, pakailah selimut, tutup telinga kalian. Jika kalian merasa ada teriakan maka sujudlah kepada Allah dan ucapkan "Subhanal Quddus 2x. Rabbuna Al-Quddus". Barang siapa melakukan hal itu akan selamat. Jika tidak maka akan binasa"

Hadis ini terdapat dalam kitab Al-Fitan karya Syekh Nuaim bin Hammad. Berikut penilaian Perawi Hadis menurut para Huffadz di bidang ilmu hadis:

1. Ibnu Lahi'ah

Para ulama menilainya dhaif karena ia memiliki kitab yang terbakar sehingga daya ingatnya berubah.

2. Abdul Wahhab bin Husain

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani berkata:

"ﻋﺒﺪ اﻟﻮﻫﺎﺏ" ﺑﻦ ﺣﺴﻴﻦ ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻭﻋﻨﻪ اﺑﻦ ﻟﻬﻴﻌﺔ ﺃﺧﺮﺝ ﻟﻪ اﻟﺤﺎﻛﻢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ اﻷﻫﻮاﻝ ﻣﻦ اﻟﻤﺴﺘﺪﺭﻙ ﺣﺪﻳﺜﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺧﺮﺟﺘﻪ ﺗﻌﺠﺒﺎ ﻭﻋﺒﺪ اﻟﻮﻫﺎﺏ ﻣﺠﻬﻮﻝ ﻗﺎﻝ اﻟﺬﻫﺒﻲ ﻓﻲ ﺗﻠﺨﻴﺼﻪ ﻗﻠﺖ ﺫا اﻟﺨﺒﺮ ﻣﻮﺿﻮﻉ اﻧﺘﻬﻰ

Abdul Wahhab bin Husain, ia meriwayatkan dari Muhammad bin Tsabit, ia dari Ibnu Lahi'ah. Al-Hakim meriwayatkan 1 hadis dalam Al-Mustadrak bab Al-Ahwal. Ia meriwayatkan karena takjub saja. Abdul Wahhab ini tidak diketahui. Adz-Dzahabi berkata: "Hadis ini palsu" (Lisan Al-Mizan 2/139)

3. Harits Al-A'war

Terkait perawi yang 1 ini langsung dicantumkan oleh Imam Muslim dalam Mukadimah Sahihnya:

ﻋَﻦِ اﻟﺸَّﻌْﺒِﻲِّ، ﻗَﺎﻝَ: ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ اﻟْﺤَﺎﺭِﺙُ اﻷَْﻋْﻮَﺭُ اﻟْﻬَﻤْﺪَاﻧِﻲُّ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻛﺬاﺑﺎ. ﻋَﻦْ ﻣُﻐِﻴﺮَﺓَ، ﻗَﺎﻝَ: ﺳَﻤِﻌْﺖُ اﻟﺸَّﻌْﺒِﻲَّ، ﻳَﻘُﻮﻝُ: ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ اﻟْﺤَﺎﺭِﺙُ اﻷَْﻋْﻮَﺭُ، ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﺸْﻬَﺪُ ﺃَﻧَّﻪُ ﺃَﺣَﺪُ اﻟْﻜَﺎﺫِﺑِﻴﻦَ

"Sya'bi berkata bahwa Harits al-A'war Al-Hamdani ini adalah sangat pembohong"

Al-Hafidz Adz-Dzahabi memberi penilaian tengah-tengah soal perawi ini dalam kitabnya Siyar A'lam An-Nubala' 4/152. Beliau berkata:

ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﻗَﻮْﻝُ اﻟﺸَّﻌْﺒِﻲِّ اﻟﺤَﺎﺭِﺙُ ﻛَﺬَّاﺏٌ, ﻓَﻤَﺤْﻤُﻮْﻝٌ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﻋَﻨَﻰ ﺑِﺎﻟﻜَﺬِﺏِ اﻟﺨَﻄَﺄَ ﻻَ اﻟﺘَّﻌَﻤُّﺪَ

"Maksud perkataan Sya'bi bahwa Haris ini pembohong diarahkan sebagai kesalahan, bukan bohong secara sengaja"

ﻭَﻛَﺬَا ﻗَﺎﻝَ ﻋَﻠِﻲُّ ﺑﻦُ اﻟﻤَﺪِﻳْﻨِﻲِّ، ﻭَﺃَﺑُﻮ ﺧَﻴْﺜَﻤَﺔَ: ﻫُﻮَ ﻛَﺬَّاﺏٌ

"Demikian pula perkataan Ali bin Madini dan Abu Khaitsamah bahwa Harits adalah sangat pendusta"

ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑﻦُ ﻣَﻌِﻴْﻦٍ، ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻫُﻮَ ﺛِﻘَﺔٌ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻣَﺮَّﺓً: ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﻪِ ﺑَﺄْﺱٌ. ﻭَﻛَﺬَا ﻗَﺎﻝَ اﻹِﻣَﺎﻡُ اﻟﻨَّﺴَﺎﺋِﻲُّ: ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﻪِ ﺑَﺄْﺱٌ, ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺃَﻳْﻀﺎً: ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺎﻟﻘَﻮِﻱِّ

Yahya bin Ma'in berkata: "Ia terpercaya". Dalam kesempatan lain: "Dia tidak apa-apa". Demikian pula Imam Nasa'i. Pada kesempatan lain Nasa'i berkata: "Harits bukan perawi yang kuat"

ﺛُﻢَّ ﺇِﻥَّ اﻟﻨَّﺴَﺎﺋِﻲَّ ﻭَﺃَﺭْﺑَﺎﺏَ اﻟﺴُّﻨَﻦِ اﺣْﺘَﺠُّﻮا ﺑِﺎﻟﺤَﺎﺭِﺙِ

Kemudian Nasa'i dan para ulama pengarang kitab hadis As-Sunan berhujjah dengan Harits

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺣَﺎﺗِﻢٍ: ﻻَ ﻳُﺤْﺘَﺞُّ ﺑِﻪِ

Abu Hatim berkata: "Harits tidak bisa dijadikan Hujjah"

ﻭَﻫُﻮَ ﻣِﻤَّﻦْ ﻋِﻨْﺪِﻱ ﻭﻗﻔﺔ ﻓِﻲ اﻻﺣْﺘِﺠَﺎﺝِ ﺑِﻪِ

"Harits ini menurut saya (Adz-Dzahabi) termasuk orang yang tidak boleh dijadikan Hujjah"

Disamping hadis ini ada yang menilai hadis palsu, juga ada yang menilai dhaif, maka tidak bisa dijadikan Hujjah. Ternyata Syekh Nuaim bin Hammad yang mencantumkan hadis tersebut di dalam kitab Al-Fitan telah membuat judul khusus:

ﻣَﺎ ﻳُﺬْﻛَﺮُ ﻣِﻦْ ﻋَﻼَﻣَﺎﺕٍ ﻣِﻦَ اﻟﺴَّﻤَﺎءِ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻓِﻲ اﻧْﻘِﻄَﺎﻉِ ﻣُﻠْﻚِ ﺑَﻨِﻲ اﻟْﻌَﺒَّﺎﺱِ

"Beberapa riwayat tentang tanda-tanda dari langit soal terputusnya kerajaan Bani Abbas".

Dengan demikian riwayat ini sangat multi tafsir, hampir setiap Ramadhan yang pertengahan Ramadhan jatuh pada Hari Jum'at maka hadis ini selalu ditampilkan. Wallahu A'lam.

•] Tetap hadapi Ramadhan dengan bahagia dan buka puasa dengan penuh nikmat

Karomah Embah Arwani Amin Kudus

Diposkan Oleh: Muhtadi Bantan - Diperbarui Pada: Kamis, 16 Mei 2019 Pukul 05.28.00




Kalau membahas biografi seorang ulama maka pasti tiada kunjung habisnya untuk diceritakan bahkan ditulisnya pun akan berlembar kertas. itulah makna dari sekian banyak arti dari luasnya ilmu Sang Pencipta Yang Maha kasih.
Kali ini saya ikut berbagi tentang sekian banyak karomah yang dipunyai salah satu master huffadz tanah jawa yaitu al-maghfurlah Embah Arwani kudus. Semoga apa yang tersaji menjadi pelantara saya khususnya umumnya para pembaca pengunjung blog ini menjadi pengamal penerus perjuangan para Ulama Awliya Allah dimuka bumi dan bisa bersama nanti kelak dialam keabadian.

Karomah KH, Muhammad Arwani Amin Kudus.

KAROMAH KH. MUHAMMAD ARWANI AMIN (MBAH ARWANI) (KUDUS – JAWA TENGAH)

1. AIR PUTIH PEMBERIAN MBAH ARWANI BERFUNGSI SEBAGAI BAHAN BAKAR

Suatu hari, Mbah Arwani pergi ke luar Kota untuk menghadiri suatu acara bersama beberapa Kiai dengan menggunakan mobil. Selepas menghadiri acara, rombongan Mbah Arwani pun pulang menuju Kudus. Baru sampai di daerah Rembang tiba-tiba mobilnya mogok. Setelah diperiksa oleh sang sopir, ternyata bahan bakar mobilnya habis. Sang sopir dan beberapa anggota rombongan bingung, karena pada waktu itu sangat jarang keberadaan SPBU atau yang menjual BBM eceran di pinggir jalan.

Di saat sopir dan para Kiai kebingungan, tiba-tiba Mbah Arwani memberi air putih kemasan dan dawuh, “Coba tuangkan pakai air putih ini.”

Tanpa ragu, sang sopir pun mengiyakan dawuh Mbah Arwani tersebut. Subhanallah… mobil pun kembali bisa berjalan.

2. MBAH ARWANI PERGI KE MADINAH DALAM SEKEJAP

KH. Manshur Popongan adalah guru Thariqahnya Mbah Arwani. Saat Mbah Manshur dirawat di sebuah Rumah Sakit di Kota Solo, Mbah Arwani menjenguk gurunya itu. Di sela-sela obrolan guru dan muridnya tersebut, tiba-tiba Mbah Manshur minta sesuatu kepada Mbah Arwani, “Mbah Arwani, saya ingin sekali makan kurma hijau, apa sampeyan bisa mencarikan untukku ?.”

Dengan bergegas Mbah Arwani pun menyanggupi permintaan gurunya itu. Dalam sekejap, setelah Mbah Arwani keluar dari kamar tempat gurunya dirawat, Mbah Arwani langsung tiba di Kota Madinah Al-Munawwarah.

Setelah sampai di Madinah, Mbah Arwani pun langsung mencari kurma hijau di sebuah pasar Kota Madinah. Sehabis membeli kurma hijau, Mbah Arwani tidak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk ziarah ke makam Rasulullah SAW dan shalat di Masjid Nabawi. Namun, baru beberapa raka’at shalat selesai didirikan, Mbah Arwani melihat gurunya sudah berada di belakangnya. Betapa kaget Mbah Arwani karena sudah disusul oleh gurunya itu. Gurunya pun dawuh, “Selesai shalat langsung pulang, ya ?.”

Mbah Arwani pun menjawab, “Nggeh, Mbah Yai.”

3. ROKOK PEMBERIAN MBAH ARWANI TAK PERNAH HABIS

Suatu waktu, ada seorang tamu yang sowan kepada Mbah Arwani. Tidak berselang lama, si tamu diberi jamuan dan sebungkus rokok. Setelah mendengar nasihat-nasihat dari Mbah Arwani, si tamu pun mohon pamit untuk pulang. Tetapi sebelum pulang, Mbah Arwani bilang, “Bawa saja rokoknya, tapi jangan dihitung berapa isinya ?.” 
Si tamu pun mengangguk, “Nggeh, Mbah Yai.”

Tak terasa, si tamu merasa heran, kenapa sudah satu minggu rokok yang dikasih Mbah Arwani itu tidak habis-habis, padahal dalam sehari ia bisa menghabiskan kurang lebih 6 batang rokok. Karena penasaran, ia pun membuka bungkus rokok yang dikasih Mbah Arwani tersebut, ternyata isinya tinggal 1 batang. Ia pun merasa bersalah karena tidak mematuhi pesan Mbah Arwani agar tidak membuka bungkusnya. Ia pun berpikir jika dalam sehari ia bisa menghabiskan 6 batang rokok berarti isi rokok yang ada di bungkus itu kurang lebih 42 batang, padahal pada waktu itu, umumnya satu bungkus rokok berisi 12 batang. 
Subhanallah…

4. MBAH ARWANI TERHINDAR DARI KECELAKAAN BUS

Kiai Manshur Maskan adalah santri kinasih sekaligus anak angkatnya Mbah Arwani. Setiap kali Mbah Arwani mendapat undangan sema’an Al-Qur’an, Kiai Manshur sering diajak untuk menyimaknya.

Suatu hari, Kiai Manshur diajak gurunya untuk menghadiri undangan sema’an Al-Qur’an di luar Kota. Karena jaraknya jauh, Mbah Arwani pun memutuskan untuk naik bus. Lama sekali Kiai Manshur dan gurunya menunggu datangnya bus. Tak berselang lama, ada bus yang kondisinya baik dan mulus lewat di depan mereka, saat Kiai Manshur akan menghentikan bus tersebut, tiba-tiba Mbah Arwani melarangnya, “Jangan bus ini, tapi bus berikutnya saja.”

Kiai Manshur pun hanya mengiyakan dawuh gurunya itu. Kemudian datanglah bus yang kondisinya tidak baik dan kurang mulus di depan mereka. Kiai Manshur pun menghentikan bus tersebut atas perintah gurunya itu.

Dalam perjalanan, Kiai Manshur melihat sebuah peristiwa kecelakaan, ternyata yang kecelakaan adalah bus yang tadi hampir dinaiki dirinya dan gurunya itu. Dalam hati, Kiai Manshur berujar, “Ternyata Mbah Yai Arwani melihat kejadian sebelum kejadian itu terjadi.” 
Subhanallah…

Oleh: Saifur Ashaqi (Alumni PTYQ Pusat)
Sumber: KH. Manshur Maskan dan KH. Sa’dullah royani )

Ket. Foto : KH.Arwani Amin Said Dan KH.Turaichan Adjhuri Assyarofi .

Terimakasih pada teman yang telah sudi mampir dan berbagi dalam doa keselamatan buat saya. Semoga bermanfaat.

Semua Tentang Kekurangan Dan Kelebihan

Diposkan Oleh: Muhtadi Bantan - Diperbarui Pada: Rabu, 10 Juni 2015 Pukul 03.57.00


Kekurangan dalam diri sering ditutupi agar tiada yg tahu begitu kurangnya diri dimata orang lain. Hanya saja bukan berarti kurang percaya akan diri sendiri sama sekali dan tak ingin dibicarakan, melainkan ketika itu pula kembali pada diri masing-masing, ada sesuatu hal yg diingini. Sebatas manakah menyembunyikan kekurangan itu? Akibat dari mengutarakannya bagaimana? Dan bila disebarluaskan akan berakibat apa? Sebab sering ada jg yg megutarakan kurang dan kekurangan dalam diri manakala ada satu sebab tujuan yg tersendiri. Misalnya: cara menolak pinangan orang dgn halus "saya tidak bisa masak, saya suka mendengkur, saya boros jajan dlsb."
Dan kurang ini kurang itu ga bisa ini ga bisa itu. Alhasil penyebutan kekurangan itu amat jarang sekali bahkan amat sangat langka, kebanyakan semuanya ditutup rapat-rapat agar tidak sampai kelihatan. Ini memang manusiawi juga.
Adakalanya kekurangan itu wajib ditutup rapat-rapat sebagaimana pula kelebihan pada diri sendiri jangan disebar luaskan. Kurang elok membicarakan dosa diri sendiri kepada orang lain walau tujuannya hanya sekedar dianggap orang yg hina. Pun amal kebaikan usah di sebarluaskan hanya agar dianggap orang yg teristimewa.
َلاَ تُظْهِرَنَّ فَضِيْلَةً كَيْ تُعْتَقَدْ ~♥~ لاَ تَبْرُزَنَّ لِيَنْكُرُوْكَ رَذآئِلا
Kemarin saya menyekap janda kaya sampai pagi hingga ia 'terkapar' tak berdaya. Padahal walau ia benar berbuat begitu namun, alangkah bijaknya jika tak dibicarakan biarpun hanya sekedar anggapan orang bahwa dia bukan orang baik-baik.
Kemarin saya melakukan qiyamullail sampai subuh diambang fajar hingga tak terasa badanpun lemas serta kantuk pagi harinya. Padahal biarpun dia benar mengerjakan qiamullail, alangkah kurang tepat bila disebarluaskan walau hanya sekedar agar dijiluki yg paling beribadah bukan untuk diikuti semata.

Tentang Hati Kita

Diposkan Oleh: Muhtadi Bantan - Diperbarui Pada: Sabtu, 05 Juli 2014 Pukul 02.26.00



Tentang Hati Kita


Tentang Hati.
Imam Al-Ghazali mengelompokkan hati menjadi 3 macam:
1. Hati sehat dan bercahaya (yaitu hati yang beriman, ikhlas dan penuh cinta)
2. Hati yang sakit (yaitu hati yang sulit menahan nafsu seperti iri, dengki, dendam prasangka buruk, marah, menghasut menggunjing)
3. Hati yang mati (yaitu hati yang ingkar dan durhaka kepada ALLAH, Rasulullah Shalallahu alaihiwasallam, kedua orang tua, kepada 'Ulama dan Guru).

Imam Al-Ghazali berkata: Penyebab Hati menjadi mati :
1. Ingkar kepada ALLAH, Rosululloh dan Para Ulama
2. Prasangka buruk
3. Menggunjing
4. Memfitnah
5. Malas Ibadah
6. Memakan makanan yang haram 
7. Terlalu cinta dunia
8. Tidak Ikhlas
9. Marah dan dendam
10. Kurang Bersyukur.

Bagaimana cara menghidupkan hati atau mengobati hati yang sakit.
Ingatlah istilah "tombo ati" Obat hati ada 5, yakni :
1. Membaca Al Qur'an dan mentadabburi ayat-ayatnya
2. Menghidupkan shalat malam
3. Perbanyak puasa sunah, sebagai latihan mengendalikan hawa nafsu
4. Berkumpul / mendekat dengan lingkungan orang-orang yang soleh.
Mereka adalah teman dan sahabat yang senantiasa mengingatkan dan mengajak kita pada jalan kebaikan
5. Perbanyak dzikir untuk membersihkan dan melembutkan hati.

Semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing kita pada jalanNya dan memberikan karunia qolbu yang bersih, tenang dan tenteram, sehingga mampu membaca Cahaya petunjuk dariNya. Aamiin

Makna Hidup Dalam Berproses

Diposkan Oleh: Muhtadi Bantan - Diperbarui Pada: Sabtu, 07 Juni 2014 Pukul 00.02.00


Makna Hidup Dalam Berproses.

Makna Hidup Dalam Berproses


Dalam ajaran sunda ada perkataan "Ulah eureun melak paré pédah aya béja isuk rék kiamat" (Jangan stop menanam padi karena ada berita bahwa besok akan kiamat).
Ucapan2 seperti ini tidak terlepas dari wejangan2 para leluhur kita dahulu, disarikan dari inti ajaran yg luhur.

Seperti dalam sebuah riwayat;
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Sekiranya kiamat datang, sedangkan di tanganmu ada anak pohon kurma, maka jika (masih) bisa menanamnya (tidak berlangsung kiamat itu sehingga selesai menanam tanaman), hendaklah kamu menanamnya (HR. Ahmad).

Disini Rasulullah Saw mengajarkan kita arti sebuah proses. Bahkan ketika kita sadar sepenuhnya bahwa kehancuran pasti datang, tetaplah menjalani proses yang ada. Melakukan perbaikan adalah proses yang harus terus berjalan walau mungkin ujungnya tidak bisa kita raba apalagi prediksi.

Kita diajarkan untuk berproses. Makanya dalam Islam, ibadah yang sedikit namun kontinyu dibilang sebuah hal yang sangat baik, ketimbang ibadah borongan. Kata pepatah sunda dikatakan 'Ibadah hirup kudu malapah gedang ulah gebrag tumbila'. Hal ini karena ibadah yang sedikit, sederhana namun kontinyu bukan hanya bertujuan pada hasil (berupa pahala dan keredhaan Allah) namun juga sebagai pembentuk karakter diri menjadi orang yang dalam tingkah sederhananya selalu merasakan adanya kuasa dan pantauan Allah. Hal ini akan membentuk karakter muraqabah, selalu merasa diawasi Allah.

Maka, berproseslah Sahabat!

URAIAN TENTANG UCAPAN AL-IMAM AL-SYAFI'I : IN SHAHHAL HADITS FAHUWA MADZHABI

Diposkan Oleh: Muhtadi Bantan - Diperbarui Pada: Jumat, 06 Juni 2014 Pukul 07.35.00


URAIAN TENTANG UCAPAN AL-IMAM AL-SYAFI'I : IN SHAHHAL HADITS FAHUWA MADZHABI.

URAIAN TENTANG UCAPAN AL-IMAM AL-SYAFI'I : IN SHAHHAL HADITS FAHUWA MADZHABI


إن صحّ الحديث فهو مذهبي

أي مذهبي مستنبطة من الأحاديث الصحيحة
وليس كل أحاديث الصحيحة مذهبي
لتعرّض الأدلّة من العام والخاص والمبيّن والمطلق

Ada sebagian anak Adam yang mempunyai kecerdasan intelektual namun kurang jeli dalam anutannya, telah memberikan peringatan pada pengikut / muqollid Al-Imam Al-Syafi’i dengan salah satu perkataan beliau, “In shahha al-hadits fahuwa mazdhabi (apabila suatu hadits itu shahih, maka hadits itulah mazhabku)” dan melarang taklid dalam beribadah.

Imam Al-Nawawi ra. (mujtahid fatwa) sepakat dengan semua gurunya tentang hal ini bahwa benar memang Al-Syafi'i berkata demikian. Akan tetapi perkataan (Ucapan Al-Syafi’i) ini bila pun direalisasikan dalam hal hanya untuk dzohirnya saja maka perkataan beliau itu terkhusus untuk orang yang telah mencapai derajat mujtahid madzhab. Dengan asumsi (syarat) bahwa ia (mujtahid madzhab,_) harus yakin bahwa Al-Syafi’i belum mengetahui hadits itu atau tidak mengetahui (status) kesahihannya. Dan hal ini hanya bisa dilakukan setelah mengkaji semua buku Al-Syafi’i dan buku murid-muridnya. Syarat yang sangat berat, dan sedikit sekali orang yang mampu memenuhinya. Mereka (para penerjemah seluruh perkataan Al-Syafi'i atau bisa di sebut Ashhabul wujuh,_) mensyaratkan hal ini karena Al-Syafi’i sering kali meninggalkan sebuah hadits yang ia jumpai akibat cacat yang ada di dalamnya, atau mansukh, atau ditakhshish, atau ditakwil, atau sebab-sebab lainnya.”

Semua ahli hadits pasti tahu bahwa hadits yang telah terbukukan dalam kitab-kitab hadits jumlahnya jauh di bawah jumlah hadits yang dikumpulkan dan dihafal oleh Al-Hafidz (minimal 100.000 hadits) dan jauh lebih kecil dari jumlah hadits yang dikumpulkan dan dihafal oleh Al-Hujjah (minimal 300.000 hadits). Sedangkan jumlah hadits yang dikumpulkan dan dihafal oleh Imam Mazhab yang empat, jumlahnya lebih besar dari jumlah hadits yang dikumpulkan dan dihafal oleh Al-Hujjah.

Maka bukan berarti beliau, Al-Imam Al-Syafi'i tiada kedatangan sesuatu hadits atau kekurangan hadits bahkan mengesampingkan hadits sampai2 meninggalkannya hanya demi ro'yu (pendapat) nya saja tanpa ada hujjah2 yg lain. Akan tetapi jauh dari itu, yakni: Ulama madzhab mengaris bawahi ucapan A-Syafi'i ini ( In shahhal hadits fahuwa madzhabi ) dengan tafsirannya:

Ay madzhabi mustambathatun minal ahaaditsis shahihah, yakni madzhabku di istinbat dari hadits shahih keseluruhan. Namun selanjutnya : Walaysa kullu ahaaditsis shahiah madzhabi : akan tetapi bukan semuanya akan hadits shahih itu madzhabku, diambil untuk dijadikan dalil hukum istinbatnya karena : Lita'arrudhil adlillah : jika dikompromikan satu hadits dan yg lainnya ada selisih perbedaan pengistinbatannya. Sebab banyak isi satu hadits dengan yg lainnya banyak pertentangan. Kadang ada hadits husus dengan hadits 'am, hadits mubayyan dan mutlak.

Maka dengan itu kiranya salah ada sebagian orang beranggapan bahkan hingga berargumen bahwa Al-Syafi'i itu kekurangan hadits sampai2 mereka meremehkannya.

Dikutip dari uraian para masyayikhil kiram tentang ucapan Imam Al-Syafi'i " IN SHAHHAL HADITS FAHUWA MADZHABI " dengan sanad shohih (langsung didengar dihadapan beliau2, talaqqi.

Hukum Bermadzhab

Diposkan Oleh: Muhtadi Bantan - Diperbarui Pada: Minggu, 02 Maret 2014 Pukul 05.50.00



Hukum Bermadzhab


HUKUM BERMADZHAB

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Mengenai keberadaan negara kita di Indonesia ini adalah bermadzhabkan syafi'i, demikian guru-guru kita dan guru-guru mereka (para guru), sanad guru mereka jelas hingga Imam syafii, dan sanad mereka (para guru) muttashil menyamung dalam hadits hingga Imam Bukhari, bahkan hingga rasul SAW., bukan seperi orang-orang masa kini yang mengambil ilmu dari buku terjemahan lalu berfatwa untuk memilih madzhab semaunya. 

Jika ada yang berkata dan itu memang benar adanya, bahwa kita mesti menyesuaikan dengan keadaan. Bila kita di Makkah misalnya, maka madzhab disana kebanyakan hanafi, dan di Madinah madzhab kebanyakannya adalah Maliki, selayaknya kita mengikuti madzhab setempat, agar tak menjadi fitnah dan dianggap lain sendiri. Berbeda dengan sebagian muslimin masa kini yang gemar mencari yang aneh dan beda, tak mau ikut jamaah dan cenderung memisahkan diri agar dianggap lebih alim dari yang lain, hal ini adalah dari ketidak fahaman melihat situasi suatu tempat dan kondisi masyarakat.

Lantas mengapa harus bermadzhab.

Memang tidak ada perintah wajib untuk bermadzhab secara shariih. Namun bermadzhab itu wajib hukumnya, karena kaidah syariah adalah “Maalaa yatimmul waajibu illa bihi fahuwa wajib,” yaitu apa yang harus ada sebagai perantara untuk mencapai hal yang wajib, maka hal itu menjadi wajib hukumnya. 

Misalnya kita membeli air, apa hukumnya? Tentunya mubah saja. Namun bila kita akan shalat fardhu tetapi tidak ada air, dan yang ada hanyalah air yang harus dibeli, dan kita punya uang, maka apa hukumnya membeli air? Dari mubah berubah menjadi wajib tentunya, karena perlu untuk shalat yang wajib. 

Demikian pula dalam syariah ini, tidak wajib mengikuti madzhab. Namun karena kita tidak mengetahui samudra syariah seluruh madzhab, dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rasul saw, maka kita tidak mengenal hukum ibadah kecuali dengan menelusuri fatwa yang ada pada imam-imam muhaddits terdahulu, maka bermadzhab menjadi wajib. 

Karena kita tidak bisa beribadah hal-hal yg fardhu/wajib kecuali dengan mengikuti salah satu madzhab itu, maka bermadzhab menjadi wajib hukumnya.

Pengertian Madzhab
Bermadzhab artinya mengikuti salah satu madzhab. "MADZHAB" itu sendiri artinya aliran atau jalan. Bagi warga yag berakidah Ahlussunahwaljama'ah, ASWAJA kalau tidak mau mengikuti madzhab ia bukan warga ASWAJA. Sebab bagi warga ASWAJA beragama harus memakai dasar Al-Qur'an dan Hadits, tidak sembarangan orang boleh diikuti. 

Para 'alim 'ulama ASWAJA sepakat , imam madzhab yang layak untuk dijadikan sebagai panutan hanya empat Imam Mujtahid dalam fikih. Hal ini berdasarkan pada pengakuan para 'ulama sedunia atas kealiman dan kemampuan empat Imam Mujtahid tsb. Disaping Madzhabnya tertuang dalam literatur banyak kitab dan buku-buku tulisannya, istilahnya mudawwan. Selain dari yang empat ini janganlah dulu kita pakai. Apa sebabnya? Karena walau ada mazhabnya, namun kurang banyak literaturnya.

Kepaa siapa kita ikut Madzhab?
Hanya kepada yang empat saja kita ikuti dalam urusan fikih, furu atau ibadah dan dalam ushul, keimanan kita mengikuti jalur sebagaimana yang di tuangkan oleh Imam Al-Asy'ari dan Imam Al-maturidi, karena sudah sepakat yang empat madzhab.

Empat Imam Mujtahid sebagai Imam Madzhab tersebut adalah:

1. Hanafi, yaitu madzhab Imam Abu Hanifah yang lahir di Kufah iRAK PADA tahun 80 Hijriyah dan meninggal pada tahun 150 Hijriyah.

2. Maliki, Yaitu madzhab Imam Maliki bin Anas yang lahir di Madinah pada tahun 90 Hijriyah dan meninggal pada tahun 179 Hijriyah.

3. Syafi'i, yaitu madzhab Imam As-Syafi'i yang lahir di Ghazzah pada tahun 150 Hijriyah dan meninggal pada tahun204 Hijriyah.

4. Hanbali, yaitu madzhab Imam Ahmad bin Hanbal yang lahir di Marwaz pada tahun 164 Hijriyah dan meninggal pada tahun 241 Hijriyah.

Warga ASWAJA biasanya sangat toleran kepada kaum muslimin yang tidak menerima madzhab-madzhab tsb. Warga ASWAJA sangat menghargai perbedaan pendapat dan menjaga jangan sampai ummat terpecah belah hanya karena perbedaan dalam melakukan syariah yang berkaitan dg soal fiqih.

Jika warga ASWAJA menetapkan harus bermadzhab bukan berarti menutup diri utk berijtihad; hal ini karena bisanya "BARU" taklid atau mengikuti kepada Imam Madzhab. Asumsi semacam itu bagi warga ASWAJA tidaklah dipermasalahkan.

Warga ASWAJA sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan, terutama yang berkenaan dengan keputusan hukum-hukum agama.Meraka tidak mau sembarangan dengan hanya mengunggulkan logika semata, namun di samping pertimbangan akal juga harus sesuai dengan ketentuan Al-Qur'an dan Hadits.

Landasan yang digunakan oleh Warga ASWAJA di antaranya:
-----------------------------------------------------------------------

Sabda Rosululloh SAW.:

"Ikutilah ulama karena mereka itu bagai lampu dunia dan lentera akhirat"
(HR. Ad-Dailamy)

"Ulama itu panutan, orang-orang taqwa itu terhormat, bergaul dengan mereka bisa menambah amal."
(HR. Ibnu Najjar dari Annas)

"Ulama itu orang-orang kepercayaan Allah di antara hamba-hamba-NYA"
(hr. Al-Qodho-i dan Ibnu As-Sakir dari Annas)

Termaktub dalam kita Al-Mizan As-Sya'roony:

"Jika tuanku mulia Ali Al-Khowwas ditanya seseorang tentang mengikuti madzhab tertentu di masa sekarang ini apakah wajib atau tidak, maka Beliau menjawab:
"Anda harus mengikuti salah satu madzhab selama anda belum mengetahui inti agama, karena khawatir terjatuh pada kesesatan. "

Termaktub dalam kitab Al-Fataawa Al-Kubro Juz :4 sebagi berikut:

"Bertaklid (mengikuti madzhab) tertentu dari empat imam madzhab lebih karena madzhab mereka telah tersebar luas, sehingga nampak jelas pembatasan hukum yang bersifat muthlaq dan pengecualian hukum yang bersifat umum, berbeda dengan madzhab -madzhab yang lain."

Termaktub dalam kitab Bughyatul Mustarsyidiin:

"Mengikuti madzhab imam lain adalah sulit bagi ulama masa kini, apa lagi kalangan awam. Hendaknya tidak mencari-cari dispensasi dengan mengambil masing-masing madzhab pendapat yang paling ringan, dan tidak boleh menggabungkan antara dua pendapat yang akan menimbulkan suatu kenyataan yangg tidak pernah dinyatakan siapa pun (darikalangan) ulama.
------------------------------------------------------------------------------

Pada intinya seorang muslim tidak diperkenankan mencampur adukkan ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh Empat Imam Madzhab kemudian dipilih yang ringan - ringan saja. berarti BERMADZHAB adalah wajib hukumnya, wujuban syar'iyyan, wajib syara', wajib definisi fikih.

Demikian sekelumit paparan saya tentang mengikuti Madzhab disadur darai beberapa sumber.

Semoga ada manfaatnya.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.